Our Blog

Isofluran: Gas Anestesi Inhalasi

 

 Isofluran: Gas Anestesi Inhalasi 


Selama puluhan tahun, Agen anestesi inhalasi (sevofluran, isofluran, desfluran) dan gas dinitrogen oksida (N2O) adalah agen anestesi inhalasi yang paling sering digunakan dalam komunitas anestesi

Isofluran adalah salah satu obat anestesi yang biasa digunakan dalam praktik klinis, terutama untuk operasi besar pada manusia. Gas ini memiliki sifat farmakologi yang baik, mempunyai efek samping yang lebih minimal, kemampuan untuk mengatur tingkat anestesi, serta pemulihan yang lebih cepat dibandingkan beberapa obat anestesi lainnya.

Kegunaan: Isoflurane digunakan untuk menginduksi dan mempertahankan anestesi umum.

 Dosis:

·    Nilai di bawah ini dianggap sebagai konsentrasi alveolar minimum (MAC) yang dapat diterima, tergantung pada usia, penyakit penyerta, pengobatan tambahan, dan riwayat penggunaan zat.

·   Dosis khas untuk pasien dewasa atau anak-anak harus berupa konsentrasi inspirasi 1,5 hingga 3,0 untuk menginduksi anestesi bedah dalam waktu 7 hingga 10 menit. Untuk mempertahankan anestesi bedah, konsentrasi nitrous oksida harus 1,0 hingga 2,5%, namun 0,5 hingga 1,0% mungkin diperlukan jika hanya oksigen yang digunakan.

Interaksi utama:

  •  Droperidol dapat meningkatkan risiko irama jantung tidak teratur yang dapat menjadi serius atau berpotensi mengancam jiwa, meskipun jarang terjadi, bila digunakan bersama isoflurane.
  • Epinefrin atau norepinefrin, bila dikonsumsi bersama isoflurane, dapat memengaruhi ritme jantung dan dapat menyebabkan penglihatan kabur, mual, atau kejang. Namun, obat ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki hipotensi yang mengancam jiwa atau gagal jantung.
  • Isocarboxazid, phenelzine, selegiline, atau tranylcypromine dapat mempengaruhi tekanan darah secara signifikan bila dikonsumsi dengan isoflurane dan harus dihindari selama 24 jam setelah menerima anestesi inhalasi.

Efek samping: Beberapa efek samping yang mungkin terjadi termasuk, tetapi tidak terbatas pada tanda-tanda kadar kalium tinggi seperti detak jantung tidak teratur, kebingungan, pusing, merasa ingin pingsan, sesak napas, atau mati rasa, depresi pernapasan, kekakuan otot, kulit kebiruan, bibir, dasar kuku, jari tangan, atau jari kaki. Isoflurane juga dapat menyebabkan hipertermia ganas, yang dapat dimulai dengan takikardia, napas cepat, demam, atau kejang dan/atau kekakuan pada rahang.


Sumber gambar: https://sl.bing.net/kv7gxQ9Ouk0

Merek dagang: Forane dan Terrell

Sumber:

Baskoro, A. G., Nurcahyo, W. I., & Wicaksono, S. A. (2022). Pengaruh Penggunaan Sevofluran dan Isofluran terhadap Postoperative Cognitive Dysfunction pada Pasien yang Menjalani Operasi Laparotomi Salpingo Ooforektomi. JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia), 14(2), 77–85. https://doi.org/10.14710/jai.v0i0.27379

Paramita, D., Wardani, R. N. K., Harahap, M. S., & Mochamat, M. (2023). Kadar COHb (Karboksihemoglobin) pada Penggunaan Sevofluran dan Isofluran Pasien yang Menjalani Vitrektomi di Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi. JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia), 15(1), 11–20. https://doi.org/10.14710/jai.v0i0.50177

Zi, M., Ce, M., & Tc, V. (2021). Anesthetic drugs: a comprehensive overview for anesthesiologists. Journal of Clinical Anesthesia and Intensive Care, 2(2), 42–53. https://doi.org/10.46439/anesthesia.2.012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PHARMANEST Designed by Templateism | Blogger Templates Copyright © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.